![]() |
| Opini :Tantangan Moral Generasi di Era Algoritma oleh : Ambrosius Missa., S. Ag. Gr |
Mengapa Role
Model Tetap Relevan?
Secara psikologis, manusia adalah makhluk sosial yang
belajar melalui observasi dan imitasi. Kehadiran role model memberikan cetak
biru (blueprint) mental tentang bagaimana menghadapi kegagalan,
mengelola kesuksesan, dan mengambil keputusan etis di persimpangan jalan
kehidupan.
- Navigasi Moral dan Etika: Di saat batas antara benar dan
salah sering kali diburamkan oleh tren media sosial, seorang panutan yang
autentik memberikan contoh nyata bagaimana memegang teguh prinsip tanpa
harus merugikan orang lain.
- Katalisator Motivasi: Melihat seseorang yang berasal
dari latar belakang serupa atau menghadapi rintangan berat namun berhasil bangkit
memberikan suntikan harapan yang realistis (relatable), bukan
sekadar motivasi kosong.
- Pemberi Perspektif: Panutan yang baik mengajarkan
bahwa proses menuju pencapaian besar melibatkan kerja keras, konsistensi,
dan kegagalan yang berulang—bukan sekadar jalan pintas instan.
Tantangan
Menemukan Panutan di Era Digital
Ironisnya, era keterbukaan informasi ini justru
membuat kita kesulitan menemukan panutan yang sejati. Algoritma media sosial
cenderung mempromosikan sensasi dan kontroversi ketimbang substansi dan
prestasi sunyi. Banyak figur publik yang diidolakan secara buta, padahal apa
yang ditampilkan di ruang digital sering kali hanyalah ilusi dari realitas yang
sesungguhnya.
Hal ini menuntut kita untuk menjadi konsumen informasi yang jauh lebih bijak. Menemukan role model tidak harus selalu tertuju pada tokoh-tokoh besar nasional atau pesohor global. Sering kali, panutan terbaik justru hadir dari orang-orang di sekitar kita: seorang guru yang berdedikasi tanpa pamrih, orang tua yang gigih bekerja, atau rekan kerja yang menjunjung tinggi profesionalisme.
Menjadi Role
Model bagi Diri Sendiri dan Sesama
Pada akhirnya, esensi dari mencari role model bukan
sekadar meniru mentah-mentah kehidupan orang lain, melainkan menyerap
nilai-nilai positif yang mereka miliki untuk membentuk versi terbaik dari diri
kita sendiri.
Lebih jauh lagi, kesadaran ini seharusnya memicu kita
untuk berbalik arah: alih-alih hanya sibuk mencari panutan, mulailah
memantaskan diri untuk menjadi panutan
sekecil apapun itu bagi lingkungan sekitar. Sebab, dunia hari ini tidak hanya
kekurangan orang sukses, tetapi sangat kehausan akan figur-figur berintegritas
yang mampu memimpin dengan keteladanan.
Perspektif
Ahli dan Kritik Konstruktif: Menimbang Fenomena Role Model di Era Modern
Kehadiran panutan bukanlah sekadar tren sosial, melainkan
bagian dari mekanisme psikologis manusia.
Albert Bandura
seorang Psikolog terkenal menyatakan bahwa sebagian besar perilaku manusia
dipelajari secara observasional melalui pemodelan: dari mengamati orang lain,
seseorang membentuk ide tentang bagaimana perilaku baru dilakukan, dan pada
kesempatan berikutnya informasi ini berfungsi sebagai panduan tindakan.
Dalam
konteks ini, Albert Bandura menyoroti role
model dari Pembelajaran Sosial dengan teori Social Learning Theory, dimana ia memberikan cetak biru
perilaku; jika figur yang diamati salah, maka pola adopsi perilaku yang ditiru
juga berisiko menyimpang.
Di
era digital, hubungan antara individu dan figur publik sering kali bersifat parasocial—sebuah hubungan
satu arah di mana pengikut merasa sangat mengenal sang figur, padahal interaksi
tersebut semu. Kritik sosiologis melihat bahwa hal ini berbahaya karena
pengikut cenderung melakukan idealization (mengidealkan secara berlebihan) tanpa
melihat realitas utuh dari kehidupan sang panutan. Demikian dikatakan Horton & Wohl dalam perspektif Sosiologi
Media dan Parasocial
Interaction.
2. Kritik Tajam Terhadap Fenomena
Role Model Kontemporer
Meskipun
konsep role model sangat
krusial, namun terdapat beberapa kritikan yang perlu diperhatikan bahwa :
Komodifikasi Keteladanan (Commodification of Virtues) Kritikus budaya sering menyoroti
bagaimana nilai-nilai moral dan pencapaian hidup kini kerap dikomodifikasi atau
dijadikan alat pemasaran. Seseorang yang tampil dermawan atau bijak di depan
kamera sering kali hanya menjalankan strategi personal branding demi kepentingan bisnis atau elektabilitas,
bukan refleksi dari integritas yang sesungguhnya.
Ilusi Meritokrasi dan Survivorship Bias Banyak influencer atau tokoh publik yang memposisikan diri
sebagai role model
sukses dengan narasi, "Jika
saya bisa melakukannya, Anda juga bisa." Para sosiolog mengkritik
pandangan ini sebagai bentuk pengabaian terhadap hak istimewa struktural (privilege). Kegagalan
membedakan antara kerja keras murni dan faktor keberuntungan/privilege dapat
menciptakan rasa bersalah yang toksik (toxic guilt) bagi generasi muda yang gagal mencapai
standar kesuksesan yang sama meskipun telah berusaha keras.
Reduksi Kompleksitas Manusia Menjadi Sekadar
"Metrik Digital"
Kritik modern juga mengarah pada bagaimana algoritma mereduksi kualitas
kepemimpinan dan keteladanan menjadi angka-angka: jumlah likes, tayangan, dan
pengikut. Seseorang yang kontroversial namun mendatangkan atensi tinggi kerap
dianggap lebih "sukses" daripada seorang ilmuwan, pendidik, atau
pekerja sosial yang mendedikasikan hidupnya secara sunyi demi kemaslahatan
umum.
3. Sintesis: Menuju Definisi Role Model yang Sehat
Menutup ulasan ini, pendapat para ahli dan sosiolog
sepakat bahwa solusi dari krisis panutan modern bukanlah mencari figur yang
sempurna tanpa cela—karena kesempurnaan itu fiktif—melainkan menggeser
paradigma dari pemujaan figur instan
menuju apresiasi terhadap nilai
substansial.
Sebuah kritik membangun menyadarkan kita bahwa role model yang baik di abad
ke-21 bukanlah mereka yang memamerkan kesempurnaan di layar kaca, melainkan
mereka yang jujur mengakui kesalahan, terbuka terhadap proses belajar, dan
konsisten membawa dampak nyata bagi lingkungan terdekatnya.
Dengan
Demikian mulai dari fenomena pergeseran makna panutan hingga tinjauan kritis
para ahli—membawa kita pada beberapa poin kesimpulan utama anara lain:
Pergeseran Paradigma yang Keliru: Di era modern, role model kerap mengalami
pereduksian makna, dari yang mulanya berorientasi pada integritas, ketahanan
moral, dan proses perjuangan yang autentik, kini bergeser menjadi sekadar
metrik popularitas digital (jumlah pengikut, gaya hidup mewah, dan viralitas
sesaat).
Validasi Ilmiah dan Sosiologis: Secara psikologis, manusia sangat
bergantung pada panutan untuk membentuk perilaku (Social Learning Theory oleh Albert Bandura). Namun,
hubungan parasocial di
media sosial dan ilusi meritokrasi sering kali menjerumuskan individu pada
pengidolaan yang keliru serta toxic guilt akibat standar kesuksesan yang tidak
realistis.
Solusi dan Arah Baru: Krisis panutan saat ini mengajarkan kita untuk tidak
mencari figur yang sempurna tanpa cela, melainkan mengalihkan fokus dari
pemujaan figur instan menuju apresiasi terhadap nilai substansial. Panutan
sejati tidak harus selalu tokoh global di layar gawai, tetapi bisa ditemukan
pada orang-orang terdekat yang konsisten membawa dampak nyata, menjunjung
tinggi etika, dan berani bertanggung jawab atas proses pembelajarannya.
Pada akhirnya, esensi utama
dari memiliki role model
bukanlah untuk meniru seseorang secara membabi buta, melainkan untuk menyerap
nilai positifnya guna membangun versi terbaik dari diri sendiri—sekaligus
memantaskan diri untuk menjadi teladan bagi sesama.
@ambomissa.com_ambomissa.my.id

0 Komentar