Advertisement

Responsive Advertisement

Cerpen : Musim Berganti, Batas yang Diuji

Lanjutan Cerpen: Rindu Tak Bernama Part 2

Oleh; Ambrosius Missa. S. Ag. Gr

Musim Berganti, Batas yang Diuji

Waktu terus bergulir, membawa perubahan musim di desa tempat mereka mengabdi. Hubungan antara Ratna dan Arya tetap berjalan di atas garis tak kasat mata yang telah mereka sepakat untuk tidak dilanggar. Namun, semakin lama mereka menutupinya, semakin dalam pula akar perasaan itu tumbuh di dalam dada.

Suatu hari, angin kemarau yang panjang mendadak berganti dengan badai kecil yang melumpuhkan akses jalan utama desa menuju kota kecamatan. Sekolah terpaksa meliburkan murid-murid selama tiga hari, meninggalkan para guru—termasuk Ratna dan Arya—terjebak di kompleks perumahan guru yang sepi.

Malam itu, hujan gerimis turun tiada henti. Ratna duduk seorang diri di teras depan rumah dinasnya, memeluk cangkir teh hangat sambil menatap kabut tipis yang menyelimuti lembah. Suara bising jangkrik dan deru angin malam mendominasi kesunyian.

Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar di pintu kayunya.

Ratna membuka pintu dan mendapati Arya berdiri di sana. Rambut dan jaket pria itu sedikit basah terkena rintik gerimis. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah termos kecil berisi air panas dan sekotak obat penurun panas.

"Maaf mengganggu malam-malam, Bu Ratna," kata Arya dengan suara rendah. "Tadi saya dengar dari Pak Kepala Sekolah kalau siang tadi badan Ibu sempat menggigil saat mengecek atap perpustakaan yang bocor. Ini... sekadar termos air hangat tambahan dan vitamin."

Ratna terpaku sejenak, terharu sekaligus terkejut mengetahui betapa detailnya Arya memperhatikan keadaannya, bahkan di luar jam sekolah.

"Terima kasih, Pak Arya. Silakan masuk sebentar, di luar dingin," jawab Ratna lembut, membukakan pintu lebih lebar.

Arya melangkah masuk, duduk di kursi kayu ruang tamu dengan menjaga jarak sopan. Tidak ada orang lain di sekitar mereka. Hanya ada suara detak jam dinding dan gemercik hujan di luar jendela. Ini adalah kali pertama mereka berada dalam satu ruangan tertutup di malam hari, tanpa topeng kesibukan sekolah.

Suasana hening menyelimuti beberapa saat, hingga akhirnya Arya menatap lurus ke arah Ratna. Tatapan itu bukan lagi tatapan samar di antara tumpukan buku, melainkan tatapan jujur seorang pria yang lelah menyembunyikan kebenaran.

"Ratna..." panggil Arya pelan. Untuk pertama kalinya, ia tidak menyebut nama dengan embel-embel gelar guru.

Jantung Ratna berdegup kencang mendengar panggilan itu. Napasnya tertahan.

"Sampai kapan kita harus pura-pura tidak tahu?" lanjut Arya, suaranya bergetar tipis, memecah kesunyian yang selama ini mereka jaga. "Setiap hari saya melihat Ibu di ruang guru, tersenyum sewajarnya, bersikap seolah kita hanya rekan biasa... tapi dada saya terasa sesak karena menahan diri untuk tidak mengatakan betapa saya mengkhawatirkan Ibu setiap detik."

Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk mata Ratna. Ia menunduk, meremas jemarinya sendiri di atas meja. Rasa bersalah kepada suaminya di kota berbenturan hebat dengan kejujuran perasaannya pada pria di hadapannya.

"Arya... kita tahu batasan kita," bisik Ratna lirih, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin. "Kita tahu di mana posisi kita. Suami saya di kota... dan kehidupan kita masing-masing sudah tergaris."

"Saya tahu," potong Arya cepat, nada suaranya penuh kepedihan yang tertahan. "Saya tidak pernah meminta Ibu untuk meninggalkan siapa pun. Saya juga tidak sedang menuntut janji apa pun. Saya hanya... lelah membohongi diri sendiri bahwa kehadiran Ibu di hidup saya tidak berarti apa-apa."

Arya mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap mata Ratna lekat-lekat. "Mencintai Ibu dalam diam adalah hal terberat sekaligus terindah yang pernah saya jalani. Jika semesta mempertemukan kita hanya untuk saling menyiksa dalam kebisuan seperti ini, maka biarlah malam ini menjadi satu-satunya waktu di mana saya jujur... bahwa saya mencintai Ibu, tanpa syarat, dan tanpa menuntut balasan."

Ratna tidak mampu lagi menahan bendungan di matanya. Air mata itu jatuh menetes ke atas meja. Ia tidak membalas dengan kata-kata cinta yang terucap lantang, karena ia tahu kata-kata itu berbahaya. Namun, perlahan, Ratna mendongak dan menatap Arya dengan tatapan penuh penerimaan—sebuah pengakuan bisu bahwa rasa itu nyata, dan mereka berdua memikul beban rindu yang sama beratnya.

Mereka tidak saling merangkul. Tidak ada sentuhan fisik yang melanggar norma. Mereka hanya duduk berdua di ruangan yang temaram, membiarkan keheningan malam menyatukan dua hati yang tahu betul bahwa cinta mereka adalah sebuah keindahan yang terlarang, abadi di dalam sunyi.

Ketika hujan akhirnya reda menjelang tengah malam, Arya pamit pulang. Langkah kakinya menyusuri jalanan desa yang basah, membawa serta sebuah kepastian yang menyayat hati: bahwa cinta tak selalu harus dimiliki untuk bisa dirasakan keberadaannya.



Posting Komentar

0 Komentar