![]() |
| Rindu Yang Tak Bernama: Oleh Ambrosius Missa. S. Ag. Gr |
Rindu
yang Tak Bernama Part 1
Udara pagi di kaki
pegunungan selalu datang membawa embun yang menusuk tulang, tetapi bagi Ratna,
dingin yang sesungguhnya berasal dari ruang kosong di sisi tempat tidurnya.
Sudah dua tahun ia menjalani hidup sebagai guru garis depan di sebuah desa
terpencil, terpisah jarak ratusan kilometer dari suaminya yang memilih tetap
tinggal di kota demi mengurus orang tua mereka yang mulai senja.
Keputusan itu diambil
dengan berat hati, sebuah kompromi atas nama pengabdian dan kewajiban keluarga.
Namun, hidup memang penuh dengan kelokan sunyi yang tak pernah ditebak.
Di sekolah tempatnya
mengabdi, Ratna tidak sendiri. Ada Arya, seorang guru matematika yang juga
datang dari luar daerah. Arya adalah sosok pendiam, teliti, dan memiliki sorot
mata setenang air telaga. Pertemuan mereka awalnya hanya sebatas urusan
administrasi sekolah, pembagian jam mengajar, atau diskusi tentang kurikulum
yang kerap terlambat sampai di pelosok.
Hari berganti minggu,
minggu berganti bulan. Kebiasaan-kebiasaan kecil mulai terajut tanpa disadari.
Setiap kali jam
istirahat tiba, Arya selalu memastikan cangkir teh hitam di meja Ratna terisi
air panas, seolah tahu persis kebiasaan Ratna yang kerap lupa minum karena
sibuk memeriksa buku tugas murid. Sebaliknya, Ratna sering diam-diam
menyelipkan setoples kue kering buatan tangannya di laci meja Arya, tahu betul
bahwa lelaki itu sering melewatkan sarapan pagi.
Mereka tidak pernah
melemparkan gombalan. Tidak ada kata-kata manis yang meluncur di antara deretan
buku perpustakaan atau di bawah rindangnya pohon ketapang halaman sekolah. Di
hadapan kepala sekolah dan rekan guru lainnya, mereka hanyalah rekan kerja yang
profesional, sesekali melempar candaan ringan ala kadarnya, menjaga jarak aman
selayaknya batasan moral yang harus dipegang teguh oleh orang-orang dewasa.
Namun, cinta tidak
pernah benar-benar bisa disembunyikan sepenuhnya. Ia selalu menemukan jalannya
sendiri melalui bahasa tubuh yang jujur.
Suatu sore, hujan turun
dengan derasnya, mengurung keduanya di ruang guru yang mulai temaram. Ratna
tengah membereskan kertas-kertas ujian, sementara Arya sibuk meraut pensil di
sudut ruangan.
"Hujannya deras
sekali, Bu Ratna. Sepertinya bakal lama," ucap Arya pelan, tanpa
mengalihkan pandangannya dari meja.
"Iya, Pak Arya.
Untung jas hujan saya ada di tas," balas Ratna tersenyum tipis.
Saat Ratna hendak
berdiri, sebuah buku tebal di ujung meja hampir tersenggol dan jatuh. Dengan
sigap, tangan Arya bergerak cepat menangkap buku itu. Jari jemari mereka nyaris
bersentuhan. Seketika, udara di ruangan itu terasa berubah menjadi lebih
lambat.
Ratna menarik tangannya
perlahan, menatap mata Arya sesaat. Di dalam tatapan itu, tersimpan ribuan
kalimat yang tak pernah diizinkan terucap oleh lidah. Ada rindu, ada kekaguman,
ada rasa bersalah, dan yang paling besar: kejujuran yang telanjang bahwa mereka
saling mencintai.
Arya menunduk, menarik
napas panjang. Ia tahu status Ratna. Ia tahu batasan suci yang mengikat wanita
di hadapannya itu. Begitu pula Ratna; ia tahu betul bahwa hatinya telah lancang
melabuhkan rasa pada pria yang datang di waktu yang salah, di tempat yang
begitu asing.
Mereka memilih untuk
tetap diam.
Hari-hari berikutnya
berjalan seperti biasa. Mereka kembali mengenakan topeng profesionalisme.
Namun, bagi siapa saja yang jeli, cinta dalam diam itu terpancar jelas dalam
detail-detail kecil.
Ketika Ratna kelelahan
menjelaskan materi di depan kelas, tatapan mata Arya dari koridor jendela
menyiratkan kekhawatiran yang teramat dalam. Ketika Arya harus berdiri
berjam-jam karena kaki mejanya patah, Ratna adalah orang pertama yang sigap
mencarikan penggantinya tanpa diminta.
Mereka mencitrakan peran
seolah-olah keduanya hanyalah teman biasa. Berjalan beriringan dengan jarak
setengah meter di antara mereka, tertawa pada lelucon sederhana yang sama, dan
saling melempar senyum penuh rahasia di tengah keramaian ruang guru.
Bagi dunia luar, mereka
adalah dua jiwa yang bekerja secara profesional. Namun di dalam batin masing-masing,
mereka tahu bahwa ruang sunyi di antara jarak dan status sosial itu telah
dipenuhi oleh sebuah nama yang hanya bisa mereka sebut di dalam doa-doa malam
yang panjang.
Di bawah langit desa
yang sama, cinta itu hidup subur tanpa pernah meminta untuk dipetik. Indah,
menyiksa, sekaligus abadi dalam diam.

0 Komentar